WAHAI PARA ISTRI TAAT LAH KEPADA SUAMIMU!!! KARNA KETAATANMU TERHADAP SUAMIMU MAMPU MENGHAPUS DOSA ORANG TUAMU.... SILAHKAN SHARE
Dari Anas bin Malik RA dikisahkan-sebagian ahli hadis menyebutkan
, ketika sang Suami bepergian untuk berjihad, ia memohon kepada istrinya agar tak keluar rumah hingga ia pulang dari misi suci itu. Bersamaan dengan itu, Ayah dari istrinya tengah sakit.
Ketaatan Istri kepada Suaminya, mampu menghapus Dosa Orang Tuanya.
Karena ia (istri)) sudah berjanji patuh pada titah suami, istri tak berani menjenguk ayahnya. Merasa memiliki beban moral pada orang tua, ia (istri)) nya itu mengutus seorang untuk bertanya hal yang dirasanya itu pada Rasulullah. Beliau menjawab, “Taatilah suami ” Sampai Ayahnya menjumpai ajalnya dan dimakamkan, ia juga tak berani berkunjung. Untuk kali ke-2, ia bertanya mengenai kondisi nya itu pada Nabi SAW.
Jawaban yang sama ia dapatkan dari Rasulullah, “Taatilah suami ” Selang berapakah lama, Rasulullah mengutus utusan pada sang istri itu supaya menginformasikan bahwa " ALLAH TELAH MENGAMPUNI DOSA AYAHNYA sebab KETATAATANnya pada suami "
Hal yang dinukil oleh at-Thabrani sedikitnya menggambarkan mengenai bagaimana seorang istri berprilaku kepada Suaminya pada saat hak suaminya lebih diprioritaskan dari pada hak orangtuanya ketika wanita sudah menikah.
Untuk pasangan suami istri, Syekh Kamil Muhammad ‘Uwaidah dalam buku Al Jami’ fi Fiqh An Nisaa’ menyampaikan seorang wanita, seperti lelaki, mempunyai kewajiban sama berbakti pada orang tua. Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA menguatkan hal semacam itu. Penghormatan pada ibu dan ayah begitu diutamakan oleh Rasulullah.
Memberi komentar hadis itu, Imam Nawawi mengemukakan hadis yang di setujui kesahihannya itu memerintahkan agar selalu berbuat baik pada kelompok kerabat. Dan, yang paling memiliki hak mendapatkannya yaitu ibu, lalu ayah. Lalu disusul kerabat yang lain.
Namun, menurut Syekh Yusuf al- Qaradhawi dalam himpunan fatwanya yang terangkum di Fatawa Mu’ashirah bila memang benar, Taat pada orang tua untuk seorang wanita hukumnya harus. Tetapi, kewajiban itu dibatasi selama yang berkaitan belum menikah.
Jika sudah berkeluarga, seorang istri diwajibkan lebih mengutamakan taat pada suami. Selama ke taatan itu masih tetap ada di koridor syariat dan mematuhi perintah agama. Oleh karena itu itu tidaklah disebut beragama untuk orang tua yang masih saja mengintervensi kehidupan rumah tangga putrinya waktu masih hidup bersama suamianya,
Jika hal semacam itu berjalan, yaitu kekeliruan besar. Pasca menikah jadi saat itu juga, anaknya sudah masuk babak baru, bukanlah lagi di bawah tanggungan orang-tua kandungnya melain kan jadi tanggung jawab suami sepenuhnya, Allah SWT berfirman, “Kaum lelaki itu yaitu pemimpin untuk kaum wanita, oleh karena Allah sudah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita). (QS an-Nisaa’ 4 : 34).
Walaupun demikian, kewajiban menaati suami bukanlah berarti harus memutus tali silaturahim pada orang tua dan menhormatinya dan membahagiakannya dan tudak mendurhakai mereka. Seorang suami dituntut bisa melindungi hubungan baik pada istri dan keluarganya. Ikhtiar itu kini—dengan perubahan teknologi—bisa diusahakan begitu mudah. Alqaradhawi memberi, di antara hikmah di balik kemandirian satu rumah tangga yaitu melanjutkan estafet garis keturunan. Bermakna, keluarga di buat sebagai satu kesatuan yang utuh tak ada intervensi pihak luar.
Jika selalu ada campur tangan, laju keluarga itu akan tersendat. Sekalian menghubungkan dua keluarga besar dari ikatan pernikahan. Allah SWT berfirman, “Dan Dia (juga) yang bikin manusia dari air lalu dia jadikan manusia itu (miliki) keturunan dan mushaharah dan yakni Tuhanmu Mahakuasa. ” (QS al-Furqan 25 : 54). Ia menyampaikan beberapa hadis lain yang menguatkan tentang utamanya memprioritaskan ketaatan istri pada suami di banding orang-tua. Di antara hadis itu, yaitu hadis yang diriwa yatkan oleh al-Hakim dan ditashih oleh al-Bazzar. Konon, Aisyah pernah bertanya pada Rasulullah, hak siapakah yang butuh diutamakan oleh istri? Rasulullah menjawab, “ (hak) suaminya. ” Lalu, Aisyah kembali kemukakan pertanyaan, tengah kan untuk suami hak siapakah yang lebih paling utama? Beliau menjawab, “ (Hak) ibunya. ”
Wallohu a'lam bishawab.

Leave a Comment