BERITA HARI INI!!! INGIN JADI PRESIDEN,, HARY TANOESOEDIBJO IKUTI JEJAK JOKOWI KELABUI UMAT ISLAM... BERIKUT PENJELASANNYA - PETA INFORMASI

BERITA HARI INI!!! INGIN JADI PRESIDEN,, HARY TANOESOEDIBJO IKUTI JEJAK JOKOWI KELABUI UMAT ISLAM... BERIKUT PENJELASANNYA


Sosok Hary Tonoesoedibjo (HT) mulai mengguncang negeri ini. Dengan muka ganteng bak aktor selebritis, pengusaha Indonesia paling kaya nomor 15 dengan kekayaan melimpah lebih 18 Triliun, Hary Tanoe inginkan mewujudkan mimpinya jadi pemimpin negeri ini. Dengan corong media raksasa milikinya grup MNC, Hary Tonoe selalu membangun citra dahsyatnya menuju RI-1. 

Mimpi besar Hary Tone untuk jadi pemimpin negeri ini sudah ia sejak waktu berhimpun dengan Bos Metro TV Surya Paloh. Bersamaan Surya Paloh, Hary Tanoe keduanya sama membangun ormas Nasdem waktu lalu bermetafora sebagai partai. Nafsunya untuk jadi ketua umum Nasdem waktu itu lalu diganjal oleh Surya Paloh. Mimpinya jadi orang nomor satu Nasdem juga kandas. 

Hary Tanoe isi khotbah di gereja (sumber photo ; okezone) 
Hal inilah yang lalu jadi titik-titik konflik dua bos media raksasa itu. Gagal kuasai Partai Nasdem, Hary Tonoe juga segera meloncat ke Hanura pimpinan Wiranto. 

Di Hanura, Hary Tanoe disambut dengan gegap-gempita karena ‘amunisi’ hebat yang dimilikinya. Di Hanura, Hary Tonoe segera dicalonkan sebagai Wapres untuk ikuti Wiranto. Usaha-usahanya membesarkan Hanura lalu mengagumkan dengan maksud instan jadi partai besar. Umum masih tetap ingat bagaimana di running text di semua tv miliki Hary Tanoe pagi 9 April 2014, terus-menerus mendatangkan hasil survei Partai Hanura yang akan menyodok partai papan atas mengalahkan Gerindra. 

Sesungguhnya hasil pemilu diumumkan KPU mengatakan lain. Hanura tetaplah partai papan bawah, dan malah masih tetap kalah dengan partai Nasdem. Fakta itu buat Hary Tanoe yang awal mulanya disambut dengan gegap-gempita di Hanura, beralih biang keladi kekecewaan untuk kader-kader Hanura. 

Beberapa analisa internal Hanura mengemukakan bila kehadiran Hary Tonoe sebagai kutu loncat dari Nasdem meskipun tak miliki pengaruh pada perolehan suara Hanura. Jadi beberapa kader Hanura dengan cara ekstrim mengemukakan bila malah kehadiran Hary Tone, citra Hanura tercoreng. Menyebabkan perolehan suara Hanura juga tetap buruk dan kalah dengan partai baru, Nasdem. 

Hary Tanoe photo bersamaan bekas Presiden Israel, Simon Peres (sumber photo ; posmetro) 

Mendekati Pilpres Juli 2014, Wiranto dan Hary Tanoe memiliki perbedaan pendapat yang tajam. Wiranto yang lihat bintang Jokowi selalu cermerlang segera berhimpun dengan PDIP, Nasdem untuk bersamaan mengusung Jokowi-Kalla sebagai Capres dan Cawapres. Sesaat Hary Tonoe yang sudah anti-pati pada Nasdem, segera berseberangan dengan mendukung Prabowo-Hatta. 

Langkah Hary Tanoe tak berhenti sampai di sini. Ia lalu mengembangkan sayap dan membangun partai baru, Perindo. Dengan Perindo, Hary Tanoe semakin yakini akan kemampuannya agar bisa berkompetisi dengan pimpinan negeri. Ia juga habis-habisan membesarkan Perindo. Mimpi besar jadi pemimpin negeri ini juga terbentang lurus. Namun mimpi besar Hary Tonoe tidaklah jalan mulus. 

Di beberapa TV miliki Hary Tanoe saat ini, umum selalu melihat mars Partai Pelindo bergema. Hary Tanoe selalu membangun citranya bersamaan Partai Perindo dengan menggunakan frekuensi umum. 

Lalu apa sebenarnya yang di cari dan dikehendaki Hary Tanoe jadi pemimpin negeri ini? Untuk Hary Tanoe yang usaha bisnisnya sudah menggurita, pastinya ia membutuhkan perlindungan politik. Hary Tanoe sudah belajar sejarah waktu lalu, bila tidak ada perlindungan politik, usaha-usaha usaha itu akan dengan mudah dilemahkan oleh beragam kebijakan. 

Itu penyebabnya Hary Tanoe selalu bangun citra hebatnya jadi sosok bintang hari esok negeri ini. Lalu bagaimana pandangan umum pada Hary Tanoe? Hary Tanoe yang begitu tahu bila bagaimanapun, sebagai negara dengan beberapa besar masyarakat beragama Islam, Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang Islami luar dalam. 

Untuk merebut simpati umat muslim Indonesia, Hary Tanoe tak segan berkunjung ke pesantren-pesantren dan berdandan bak kyai yang santun, muda dan tampan. Bukan hanya itu. Setiap kunjungan Hary Tanoe bisa ditranslate sebagai datangnya dana pertolongan atau donasi untuk daerah yang dituju. 

Hary Tanoe berasumsi, rakyat Indonesia hanya membutuhkan polesan make-up berupa pencitraan Islami. Sedikitnya, hal itu berhasil dilakukan oleh Jokowi. Jadi tak aneh jika HaryTanoe ikuti jejak langkah Jokowi ini. 

Melalui beberapa situs (blog) sebagai corongnya, menyebar opini bila penggunaan atribut peci dan sarung, yakni kebiasaan budaya, bukanlah rutinitas agama. Hary Tanoe lupa, rakyat yang sudah tertipu Jokowi, akan berbeda polosnya lagi hadapi pencitraan beberapa pemimpin. 

Tak heran jika umum mulai mencari tahu siapa Hary Tanoe yang sebenarnya. Dari beberapa link media miliki Hary Tanoe, bisa di baca bila Hary Tanoe yaitu seorang Kristiani yang saleh dan taat. Ia bahkan sering jadi pembawa khotbah di beberapa Gereja. Kesuksesannya jadi bahan share dalam beberapa komune Gereja. 

Agak janggal perasaan jika seorang pengkhotbah yang memberangkatkan beberapa puluh pendeta ke Tanah Suci Israel (HT terlepas 92 pendeta ke Holyland) mendadak kenakan baju seperti ustaz dan coba menarik simpati umat muslim untuk kebutuhan politis. 

Sudah sewajarnya jika usaha Hary Tanoe perlu diamati dan disikapi kritis oleh umat muslim Indonesia. 

sumber:www.cahaya-artikel.com
Diberdayakan oleh Blogger.