SUBHANALLAH!!! INILAH DOA NABI DI KALA GALAU, RESAH DAN PERASAAN SEDIH.. SIMAK PENJELASANNYA DI BAWAH INI, JANGAN LUPA BAGIKAN YA - PETA INFORMASI

SUBHANALLAH!!! INILAH DOA NABI DI KALA GALAU, RESAH DAN PERASAAN SEDIH.. SIMAK PENJELASANNYA DI BAWAH INI, JANGAN LUPA BAGIKAN YA



Dalam kehidupan ini, terkadang seorang hamba didera berbagai derita. Tak jarang hatinya dilanda beragam perasaan yang mengusik hati, menyiksa jiwa dan bikin hidupnya menjadi keruh dan sempit. Ada tiga jenis perasaan yang mengganggu jiwa seseorang manusia; pertama huzn (kesedihan pada apa yang terjadi di masa lalu), ke dua hamm (keresahan karena kekhawatiran akan hari esok) serta ketiga ghamm (perasaan gundah waktu menghadapi fakta yang susah yang tengah dihadapi sekarang). 

Tiga perasaan ini tidak bisa lenyap dari jiwa seorang kecuali melalui ketulusan penuh untuk kembali pada Allah, kesempurnaan perasaan hina di hadapan­Nya, kerendahan hati kepada­Nya, ketundukan serta kepasrahan terhadap perintah­Nya, yakin akan ketentuanNya, mengenal­Nya serta mengetahui nama­nama serta sifat­sifat­Nya, yakin pada kitabNya, selalu membaca serta merenungi dan mengamalkan semua kandungannya. Dengan itu semua ­bukan dengan yang lain – semua kekacauan hati itu akan pupus, dada menjadlapang, serta kebahagiaan juga akan datang. 
  
Dalam Musnad Ahmad serta Shahih Ibni Hibban dan lainnya, ‘Abdullah bun Mas’ud meriwayatkan kalau Nabi bersabda, “Tidaklah seorang hamba mengucapkan doa berikut (ini) ketika ia didera keresahan atau kesedihan tetapi Allah pasti akan menghilangkan keresahannya serta akan menggantikan kesedihannya dengan kegembiraan. Beberapa Sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, telah semestinya kami pelajari doa itu. Rasulullah menjawab, “Benar. Sudah seharusnya orang yang mendengarnya ingin pelajarinya”. 1 

Doa Nabi 
Ya Allah, sungguh saya ini yaitu hamba­Mu, anak dari hamba­Mu, anak dari hamba 
perempuan­Mu, ubun­ubunku ada di tangan­Mu, ketentuan­Mu berlaku pada diriku, 
keputusan­Mu adil terhadapku, Saya memohon kepada­Mu dengan semuanya nama yang 
adalah milik­Mu, nama yang engkau lekatkan sendiri untuk menamai diri­Mu, atau yang Engkau sampaikan pada seorang diantara hamba­Mu, atau yang Engkau turunkan dalam kitab­Mu, atau yang Engkau khususkan untuk diri­Mu dalam pengetahuan gaib di sisi­Mu, supaya engkau jadikan al­Qur’an sebagai penyejuk hatiku, sinar dadaku, pembasmi kesedihanku serta pelenyap keresahanku. 2 

Telah semestinya seseorang Muslim pelajari serta berusaha kuat untuk mengatakannya saat ditimpa rasa sedih, keresahan ataupun kebimbangan. Serta sebaiknya ia juga paham kalau ungkapan­ungkapan doa itu cuma bakal berguna apabila ia mengerti maknanya, mewujudkan maksudnya serta mengamalkan kandungannya. Berdoa dengan doa­doa yang bersumber dari Nabi serta berdzikir dengan wirid yang disyariatkan tidak ada pemahaman pada maknanya serta tanpa ada mengejawantahkan kandungannya, tak menghadirkan dampak baik serta faedah yang banyak. Doa ini berisi empat pilar yang agung. Tidak ada langkah untuk seseorang hamba untuk meraih kebahagiaan serta melenyapkan keresahan, kebimbangan serta rasa sedih terkecuali dengan mewujudkannya. 

Pilar pertama, Mewujudkan beribadah cuma untuk Allah, terasa hina dihadapan­Nya, mengakui kalau dianya yaitu makhluk ciptaan­Nya sekalian hamba­Nya, baik dianya ataupun kakek serta nenek moyangnya, dari mulai ayah ibu kandungnya yang paling dekat hingga berpangkal pada Adam serta Udara. Semuanya yaitu hamba dari Allah. Dialah yang membuat mereka, Rabb mereka, Penguasa mereka, yang mengatasi semua masalah mereka. 

Diantara bentuk realisasi pengakuan­pengakuan diatas yaitu ketekunan seseorang hamba dalam melaksanakan ibadah kepadaNya yang terwujud dalam rasa keterhinaan serta ketundukannya pada Allah, melakukan titah serta menjauhi laranganNya, senantiasa terasa perlu kepadaNya, berlindung kepada­Nya, memohon pertolongan kepada­Nya, tawakkal kepada­Nya, memohon perlindungan kepada­Nya, serta supaya hati tidak bertaut pada selain­Nya, baik dalam soal kecintaan, rasa takut, ataupun pengharapan. 

Pilar ke-2, sebaiknya seseorang hamba mengimani qadha serta qadar Allah. Juga yakini apa yang diinginkan Allah tentu berlangsung, tengah yg tidak diinginkan­Nya tidak bakal berlangsung. Demikian juga kalau tidak ada yang mampu mengintervensi hukum Allah (mengubah maupun membatalkannya), tidak ada juga yang bisa menampik keputusan­Nya (Saksikan QS Fathir/35 : 2). 


Oleh karena itu, dalam doa itu dinyatakan, “Ubun­ubunku ada ditangan­Mu, ketentuanMu berlaku terhadapku, keputusan­Mu terhadapku adil semata. ” Ubun­ubun seseorang hamba, yaitu pada sisi depan, ada di tangan Allah. Allah memperlakukannya sekehendak­Nya; juga berikan ketetapan terhadapnya sesuai sama yang Dia kehendaki. Tidak ada yang dapat mencampuri ketentuan­Nya, tak ada juga yang dapat menampik keputusan­Nya, tak ada juga yang dapat menampik keputusan­Nya. Oleh karena itu, kehidupan seseorang hamba, kematiannya, kematiannya, kebahagiaannya, kesengsaraannya, kesehatannya, cobaan yang ia terima, semuanya kembali ke Allah, tidak ada sekalipun sebagai wewenang hamba Apabila seseorang hamba yakin kalau ubun­ubunnya serta ubun­ubun semuanya hamba  yang lain ada di tangan Allah, Dia bakal memperlakukan mereka sesuai sama kehendak­Nya, jadi kemudian ia tidaklah takut pada sesama hamba, tak menyimpan berharap pada mereka, tak memposisikan mereka sebagai yang memiliki dianya, tak menggantungkan harapan serta harapannya pada mereka. Saat itu, barulah tauhid, tawakkal serta penghambaannya pada Alllah benar­benar terwujud. (Saksikan surat Hud 11 : 56) 

Ungkapan dalam doa “ketentuan­Mu berlaku atas diriku” ini meliputi dua ketentuan; 
ketetapan dalam agama serta ketetapan dalam agama serta ketetapan takdir berkenaan 
dengan semesta. Dua ketetapan ini bakal berlaku pada diri hamba, ia terima maupun tolak. 

Cuma saja ketetapan takdir mustahil untuk dilawan. Sedang ketetapan agama kadang-kadang dilanggar oleh seseorang hamba serta ia terancam memperoleh hukuman siksa sesuai sama pelanggaran yang ia kerjakan. 

Ungkapan “keputusan­Mu terhadapku adil semata”, ini meliputi semuanya ketentuan Allah pada hamba­Nya dari semua segi, baik sehat atau sakit, kaya atau miskin, rasa nikmat atau rasa nyeri, hidup atau mati, memperoleh siksa atau memperoleh ampun; semuanya yang Allah putuskan pada hamba itu yaitu adil semata. 

Pilar ketiga yaitu sebaiknya seseorang hamba meyakini nama­nama Allah yang indah (asmaul husna) serta sifat­sifat­Nya yang agung yang ada dalam al­Qur’an serta Sunnah; bertawassul pada Allah dengan nama serta sifat­Nya. Ini seperti firman Allah, Cuma punya Allah asmaul husna, jadi bermohonlah kepada­Nya dengan menyebutkan asmaul husna itu (Qs al­Araf/7 : 180) Makin kuat seseorang hamba mengetahui Allah, nama serta sifat­Nya, jadi ia bakal makin takut pada Allah, makin besar rasakan pengawasan­Nya pada dianya serta bakal makin jauh dari kemaksiatan serta hal­hal yang Allah murkai. 

Oleh karena itu, hal paling besar yang bisa mengusir rasa resah, sedih serta gelisah yaitu saat hamba mengetahui Rabbnya, penuhi hatinya dengan pengetahuan mengenai Allah serta bertawassul kepada­Nya dengan nama serta sifat­Nya. Oleh karena itu dalam doa itu dinyatakan, saya memohon kepada­Mu dengan seluruh nama milik­Mu yang Engkau sandangkan pada diri­Mu, atau yang Engkau turunkan di kitab­Mu, atau Engkau sampaikan pada seorang dari sekalian hamba­Mu, atau yang Engkau taruh sendiri di pengetahuan gaib yang ada pada sisi­Mu. Ini yaitu wasilah pada Allah yang paling Allah cintai. 

Pilar ke empat yaitu memberi perhatian pada al­Quranul Karim yang sekalipun tak memiliki kandungan kebatilan sedikit juga, yang berisi panduan, kesembuhan, kecukupan serta keselamatan. Makin besar perhatian seseorang hamba pada al­Qur’an, baik dengan membaca, menghafal, membahas serta merenungkannya, mengamalkan, serta mengejawantahkannya, ia bakal meraih kebahagiaan, ketenangan, kelapangan dada, hilangnya resah, gelisah serta rasa sedih sesuai sama tingkat perhatiannya pada Kitabullah. 

Berikut empat pilar yang agung yang dipetik dari doa yang penuh barokah ini. Sudah  sepantasnya kita menghayatinya serta berusaha untuk mewujudkannya, supaya kita bisa menggapai janji mulia serta keutamaan agung ini berbentuk sirnanya keresahan yang berganti dengan kebahagiaan serta jalan keluar. Diangkat dari at­Tabyin li Da’awatil Mardha wal Mushabin karya Syaikh ‘Abdur Razzaq hlm. 40­45.

Diberdayakan oleh Blogger.